Archive for Oktober, 2007

Lagu Dulu dan Sekarang

Fenomena aneh sedang terjadi di masyarakat musik Indonesia. Hampir 50% (perkiraan yg gak ilmiah) lagu-lagu saat ini bertemakan selingkuh, kekasih gelap, de-el-el. Memang sekarang sudah bukan merupakan sesuatu yg tabu untuk membicarakan selingkuhan atau kekasih gelap. Malah hal itu terkadang menjadi suatu kebanggaan jika punya selingkuhan. Hal ini pula yg pernah dibahas oleh sebuah stasiun radio (lebih…)

Iklan

Oktober 30, 2007 at 3:39 am 23 komentar

Sumpah Pemudik 28 Oktober 2007

Mudik tidak dapat dipisahkan dari tradisi di masyarakat kita terutama menjelang hari raya idul fitri. Namun terkadang para pemudik tidak berpikir secara rasional sehingga rela mengorbankan kepentingan sang anak demi kepentingannya untuk bersilaturahim dengan para keluarga di tanah kelahirannya. Pemudik seperti inilah yg tergolong pemudik tak berperikemanusiaan. Selain itu, ada beberapa hal yang sering tidak diindahkan oleh para pemudik, padahal itu merupakan sesuatu yg penting. Sehubungan dengan momen Sumpah Pemuda, mungkin para pemudik perlu juga untuk membuat Sumpah Pemudik yg merupakan sebuah ikrar agar ke depannya para pemudik kita lebih disiplin.
(lebih…)

Oktober 30, 2007 at 3:35 am Tinggalkan komentar

Sate dan Gule Muantabbb

Hari itu, Minggu 14 Oktober 2007, kami akan melanjutkan perjalanan dari tanah kelahiran Bapak di Pacitan, menuju tanah kelahiran Ibu di Jogjakarta. Karena perjalanan yang ditempuh akan lama dan berat, maka santap siangnya pun harus yang berkualitas. Setelah ngobrol dengan Bapak dan Om saya di rumah Mbah, akhirnya muncul sebuah rekomendasi tempat makan di Kota Pacitan (kebetulan rumah Mbah bukan di kotanya). Tempatnya dekat dengan terminal kota Pacitan. Ada dua tempat yang direkomendasikan, karena sama2 enak. Yang satu adalah milik saudara dari tetangga kampung Bapak, dan yang kedua bukan siapa2 Bapak. Yang satu tempatnya agak masuk ke gang kecil, sedangkan yang kedua tepat di pinggir jalan raya. Kenapa rekomendasinya dua? Untuk alternatif saja jika yang satu tutup, maklum hari lebaran kedua banyak tempat jualan yang tutup.
Oleh2
Rombongan kami berangkat menuju kota Pacitan. Setelah sampai di kota, kami sempatkan dulu mampir di tempat penjualan oleh2 khas Pacitan. Nama tokonya adalah “Sari Rasa”. Setelah itu kami menuju tempat makan yang direkomendasikan tadi. Kebetulan sudah lewat jam makan siang, dan perut sudah tidak bisa diajak kompromi. Akhirnya kami memilih warung sate yang alternatif 2 karena posisinya yang strategis, tepat di pinggir jalan raya. Nama warungnya adalah “Sate Berkah Insani Pak Kasan”. Semoga membawa keberkahan. 😀
Sate berkah insani
Karena yg terkenal enak dari warung ini adalah sate kambing dan gulai, kami memesan dua jenis menu tersebut. Jumlah kami ada 7 orang. Kami pesan 6 porsi sate kambing (3 porsi bumbu kacang dan 3 porsi bumbu kecap) dan 4 porsi gulai kambing. Setelah menunggu kira2 10 menit….pesanan kami tiba. Hore….hore….hore…. Waktunya menyantap semua hidangan.
Waiting Makan2
Komentar dari semua yang menyantap adalah A+++++ untuk gulainya, dan A- untuk Sate kambingnya. Kata kakakku yang sudah sering berkeliling mencoba gulai di beberapa tempat, belum pernah menemukan gulai semantab ini. Untuk sate kambingnya masih kurang empuk, tapi lumayan enak juga. Menurutku keduanya (sate dan gulai) adalah masakan yang super muantab. Tempat ini bisa dijadikan rekomendasi tempat makan Sate dan Gulai Kambing, jika anda melakukan perjalanan di sekitar kota Pacitan. Pokoke puas skaleee…..
After
Setelah berjuang untuk menghabiskan seluruh pesanan kami, akhirnya seluruh makanan dan minuman yang terhidang di meja ludes semua. Lalu saya pergi ke kasir untuk meminta tagihan dari pesanan kami (6 porsi sate kambing, 4 porsi gulai, nasi putih 10 atau 11, dan minuman berupa es teh manis dan es jeruk sebanyak 7 gelas). Ternyata tagihannya sebesar 110ribu. Wooowww, murah skaleee. Untuk makanan sebanyak itu dan senikmat itu, harga 110ribu menurutku cukup murah. Jadi jangan lupa untuk menyempatkan mampir ke tempat ini. Oke?

Oktober 26, 2007 at 6:26 am 8 komentar

Kebenaran versus NgOTOT

Dalam perjalanan ke kantor kemarin, saya dengan tidak sengaja mendengar (berarti bukan menguping ya) pembicaraan antara dua orang ibu di BUS PATAS AC 52 jurusan Bekasi – Tanah Abang yang kebetulan duduk tepat di sebelah saya. Pembicaraan ini dimulai terjadi setelah kondektur menarik ongkos dari kedua orang tersebut.

Pembicaraannya adalah sebagai berikut (mohon maaf jika terjadi perubahan redaksional kalimat):

Ibu 1: Koq mahal ya? (yg dimaksud adalah ongkos) Kan cuma 5000.
Ibu 2: Itu mah dah lama Bu, mang dari dulu 5500
Ibu 1: Saya turun di karet (Sudirman) koq … (nada gak mau ngalah)
Ibu 2: Mungkin (PATAS AC) 17 (jurusan Bekasi – Dukuh Atas) kali Bu
Ibu 1: Bukan koq (dengan nada ngOTOT)
Ibu 2: Mungkin dia gak punya kembalian Bu (nyeraaahhh deh, biar selesai) n_n’

Huahahahaha…lucu juga dengar percakapan antara dua orang ibu itu. Karena memang sudah lama (lebih dari 7 bulan) tarif AC 52 adalah 5500 dan AC 17 5000. Dan ibu 1 begitu ngototnya klo dia bayar 5000, padahal dia kan gak sering naik BUS ini, karena klo sering dia pasti dah tau bahwa tarifnya 5500. Tapi dengan percaya dirinya dia mempertahankan argumennya. Sedangkan ibu 2 yang membawakan kebenaran kepada ibu 1 harus merelakan kebenarannya kalah dengan argumen ibu 1 yang salah, karena argumen tersebut disertai ngOTOT.

Jadi, kebenaran dapat dikalahkan dengan suatu argumen yang salah jika argumen tersebut disertai ngOTOT. Apakah anda setuju?

Oktober 26, 2007 at 6:13 am 12 komentar

Pemudik Tak Berperikemanusiaan

Mudik atau pulang ke kampung halaman pada saat lebaran merupakan merupakan impian hampir setiap orang di Indonesia. Karena sebagian besar masyarakat kita tinggal, besar, dan bekerja bukan di daerah asal mereka. Sehingga budaya mudik setiap lebaran banyak dilakukan oleh masyarakat kita untuk dapat bersilaturahim dengan para keluarga di daerah asal mereka. Buktinya setiap menjelang Hari Raya Idul Fitri (Lebaran) pemerintah sibuk melakukan beberapa persiapan untuk menangani arus mudik dan arus balik, kota-kota besar sunyi senyap karena ditinggalkan kurang lebih separuh warganya, aktivitas-aktivitas pekerjaan berhenti. Biasanya kejadian ini muncul antara H-7 dan H+7 lebaran.

Saat ini mudik dengan motor menjadi sebuah trend baru dalam dunia permudikan. Selain untuk mempercepat waktu tempuh (ketika macet, motor dapat selap-selip sehingga lebih cepat), menghindari berdesakan di sarana transportasi umum, mudik dengan cara ini juga lebih murah dalam segi biaya. Biayanya jauh lebih murah dibandingkan dengan sarana transportasi umum yang tarifnya sudah naik akibat tuslah. Selain memiliki keuntungan, mudik dengan motor pun memiliki resiko yang cukup besar. Dibandingkan mudik dengan mobil, bus, atau sarana transportasi lainnya, motor paling beresiko. Selain itu, ketika hujan, perjalanan menjadi sangat terganggu.
Pemudik Bermotor
Yang membuat saya tercengang adalah banyak pemudik yang menggunakan motor yang turut membawa anak-anak mereka. Mulai dari satu hingga tiga anak. Apalagi usia si anak ada yang berusia di bawah satu tahun. Saya benar-benar tidak tega melihat ini. Betapa tidak. Sang anak mesti menjadi korban dari sebuah keinginan orang tuanya. Sang orang tua pun tidak memikirkan resiko yang bakal diterima si anak mulai dari angin jalan, debu, asap, teriknya sinar matahari, dinginnya udara malam, hujan, dan resiko kecelakaan. Apa para pemudik tersebut tidak sayang terhadap anaknya? Tentu mereka sayang. Tapi mereka mengorbankan kepentingan anaknya demi kepentingan mereka. Menurut saya, cara mudik yang seperti inilah yang dapat dikatakan “Mudik Tak Berperikemanusiaan”. Namun “Mudik Tak Berperikemanusiaan” bukan hanya terjadi pada mudik yang menggunakan motor, hal ini pun terjadi pada jenis mudik lainnya selama usia anak masih belum cukup untuk diajak mudik.

Mudik memang bukan sesuatu yang salah, karena tujuannya pun baik (silaturahim dengan keluarga). Namun jika memaksakan diri tanpa mempertimbangkan beberapa hal yang cukup penting, maka hanya akan merugikan diri sendiri. Oleh karena itu, jika anda hendak mudik (mungkin tahun depan), pertimbangkan kembali jika hendak mengajak anak anda, apakah mereka sudah cukup besar dan kuat untuk diajak mudik. Karena jika kita hanya memikirkan kepentingan kita untuk mudik tanpa mempertimbangkan resiko yang akan diterima sang anak, maka kita tergolong “Pemudik Tak Berperikemanusiaan”.

Bagaimana menurut anda?

Oktober 25, 2007 at 6:10 am 9 komentar

Truk Coca-Cola Terguling

Sudirman – Sebuah truk yang memuat puluhan crate Coca-Cola terguling di ruas Tol Jakarta-Cikampek arah Jakarta. Tepatnya di sekitar kilometer 15, dekat pintu Tol Bekasi Timur. Waktu kejadian masih belum diketahui, karena waktu saya melintas (sekitar pukul 6.45 WIB) di tempat kejadian, truk tersebut telah terguling dan sedang dilakukan evakuasi terhadap korban (awak truk maupun barang-barang).

Kejadian tersebut tidak mengganggu arus lalu lintas Tol karena tempat kejadian adalah jalur paling kiri, yang merupakan bahu jalan Tol. Semoga tidak ada korban meninggal dunia. Dan ucapan turut berduka saya sampaikan atas terjadinya musibah ini.

Oktober 23, 2007 at 1:54 am 7 komentar

Menyongsong PILKADA Kota Bekasi

Pilkada Kota Bekasi

Bekasi, kota kelahiranku, saat ini sedang bersiap untuk membuka lembaran sejarah baru. Kota Bekasi akan menggelar Pemilihan Kepala Daerah (Walikota) secara langsung pada awal tahun 2008, yaitu bulan Januari 2008. Kabupaten Bekasi yang merupakan tetangga terdekat Kotamadya Bekasi, sebelumnya telah sukses mengadakan PILKADA Kabupaten Bekasi secara langsung. Perbedaannya dengan Pemilihan Walikota Bekasi yang sebelumnya adalah pada mekanisme pemilihannya. Dahulu masyarakat memilih para wakil rakyatnya di DPRD pada saat PEMILU (Pemilihan Umum), lalu para wakil rakyat terpilih di DPRD Kota akan melakukan pemilihan Walikota. Berhubung Indonesia telah memasuki babak baru dalam demokrasi, masyarakat diberikan kebebasan untuk memilih para pejabat pemerintahnya. Mulai dari Bupati, Walikota, Gubernur, hingga Presiden. Oleh karena itu, saat ini mekanisme pemilihan Walikota pun diubah ke pemilihan langsung melalui proses PILKADA.

Pemandangan Kota Bekasi beberapa waktu terakhir ini ramai dengan spanduk, poster, pamflet, hingga baliho tentang PILKADA. Ada yang memberikan informasi tentang penyelenggaraan PILKADA Kota Bekasi, Sosialisasi para Balon (Bakal Calon) Walikota oleh para tim suksesnya, dan lain sebagainya. Bentuk dan isinya pun bermacam-macam. Intinya, ini adalah gambaran kecil demokrasi di Kota Bekasi. Apakah hal ini melanggar? Apakah ini yang dinamakan curi start kampanye? Menurut saya, proses ini akan selalu dilalui dalam setiap PILKADA dan sangat wajar, apalagi masyarakat yang akan memilih secara langsung. Mereka harus kenal dengan para Balon Walikota, seperti apa rupa orangnya, bendera apa saja yang ada di belakangnya, apa yang disampaikan, deelel.
So….gak masalah.

Beberapa Balon Walikota Bekasi yang sudah banyak disosialisasikan oleh tim suksesnya antara lain, Ahmad Syaikhu, Mochtar Muhammad, Rahmat Effendi, dan Hans Muntahar. Ahmad Syaikhu adalah Balon yang diusung oleh PKS, Mochtar Muhammad berasal dari PDI-P dan mengaku mendapatkan dukungan dari beberapa partai selain PDI-P, Rahmat Effendi adalah Balon dari Partai Golkar. Sedangkan Hans Muntahar adalah Balon yang menurut beberapa spanduk adalah calon independen.

Seperti apa sepak terjang para Balon Walikota Bekasi, kita tunggu saja pada tulisan saya berikutnya. InsyaALLAH akan dibahas lebih mendalam.

Oktober 5, 2007 at 1:53 pm 38 komentar

Pos-pos Lebih Lama


Bulan Ini

Oktober 2007
S S R K J S M
« Sep   Nov »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

RSS Mas Ersis

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS Planet Ilkomerz 39

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Kunjungan

  • 62,963