Menolak Rezeki demi Adil dan Berkah

Agustus 8, 2007 at 2:42 am 3 komentar

Kira-kira beberapa pekan yang lalu, seorang teman menawari ku sebuah pekerjaan lepas sebagai Data Entry. Dia mendapatkan info tersebut dari kawannya. Berhubung pekerjaannya tidak memungkinkan untuk mengambil pekerjaan itu, maka ia menawarkan pada ku karena menurutnya aku lebih mungkin untuk mengambil pekerjaan itu. Menurut perkiraan ku, pekerjaan yang sedang ku jalani saat ini dapat selesai pada akhir bulan Juli sehingga ku berani melayangkan CV untuk melamar pekerjaan tersebut karena pekerjaan tersebut mulai pada awal bulan Agustus.

Dua pekan menunggu, akhirnya ku dipanggil untuk interview. Ku penuhi panggilan itu dan Alhamdulillah prosesnya lancar. Seminggu setelah itu, kembali ku mendapatkan kabar bahwa ku lolos seleksi dan diundang untuk hadir pada acara training aplikasi yang akan digunakan. Pekerjaan yang akan dijalani adalah data entry untuk Pilkada DKI Jakarta, dan ku ditempatkan di Kecamatan Duren Sawit yang memiliki jumlah TPS urutan 3 terbesar, yaitu 486 TPS. Masa kerjanya sekitar 2-3 hari di tempat yg telah ditentukan.

Kondisinya sekarang, pekerjaan ku saat ini belum berakhir pada awal Agustus, sedangkan pekerjaan data entry harus sudah mulai. Jika pekerjaan ini ku ambil, maka selama 2-3 hari ada waktu yang berbenturan antara pekerjaan lama dan pekerjaan baru ku. Walaupun benturan tersebut tidak sampai satu hari full, tapi tetap saja ku harus mengorbankan salah satu pekerjaan tersebut ketika benturan itu terjadi. Ku masih berteguh hati untuk mengambil pekerjaan tersebut.

Interview lolos…….proses training sudah…..tahap berikutnya hanya tinggal survey tempat dan start kerja. Tiba-tiba timbul gejolak dalam diri ini. Ada sesuatu yang tidak pas. Ternyata hati kecil ku menolak. Akan timbul suatu ketidakadilan selama proses pekerjaan itu berjalan. Pasti akan ada suatu pekerjaan yang akan dikalahkan untuk pekerjaan lainnya. Ku tak ingin hanya untuk mendapatkan tambahan rezeki, ku harus berbuat tidak adil terhadap pekerjaan ku. Memang sulit untuk melepaskannya, tapi untuk bersikap adil terkadang dibutuhkan suatu pengorbanan.

Moga dengan keputusan ini, bisa lebih adil dan insyaALLAH rezeki-nya pun bisa lebih berkah.

Entry filed under: Catatanku. Tags: .

Andaikan Jakarta setiap hari Pilkada Tambal Lubang, Bikin Lubang

3 Komentar Add your own

  • 1. E-One  |  Agustus 8, 2007 pukul 4:02 am

    ah banyakan gaya lo.
    hihihi…😀

    Balas
  • 2. noname  |  Agustus 8, 2007 pukul 6:59 am

    maruk lo……heheheheh. peace….sabar rong…blm rejeki lo.

    Balas
  • 3. sundoro  |  Agustus 8, 2007 pukul 8:13 am

    @zankies a.k.a noname
    Justru karena gak maruk kalee gw mutusin tuk mundur😛

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Bulan Ini

Agustus 2007
S S R K J S M
« Jul   Sep »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

RSS Mas Ersis

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS Planet Ilkomerz 39

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Kunjungan

  • 61,204

%d blogger menyukai ini: