Komputerku, Pulang Yuk…

September 7, 2006 at 12:59 pm 2 komentar

Hari itu merupakan hari yang paling melelahkan bagiku. Hari itu merupakan hari terakhirku di kosan, dan harus segera memindahkan barang-barang kembali ke rumah ‘tercinta’. Dari segi barang, saya tidak terlalu memiliki banyak barang, sehingga mudah saja untuk pindahan ke rumah. Tapi beberapa bulan yang lalu, saya membawa komputer dari rumah ke kosan, sehingga sekarang saya harus mengangkutnya kembali ke rumah. Berhubung minimnya dana dan keterbatasan fasilitas, komputer saya angkut sekaligus tanpa kendaraan pribadi, tanpa carter kendaraan umum, dan tanpa seorang teman di samping ku …… T-T

Ceritanya berawal disini. Monitor di tangan kiri, casing beserta isinya di tangan kanan, dan perangkat sisanya (papan kunci / keyboard, tetikus/mouse, stabilizer, dkk) dibawa di dalam tas. Kebayangkan beratnya…

Berangkat dari kosan masih lancar, alhamdulillah. Karena jam 9-an angkot dari kosan menuju terminal angkot Bubulak banyak yang kosong. Langsung saja ku ambil tempat paling pojok, biar tidak mengganggu ‘pergerakan’ para penumpang lainnya. Perjalanan dari kosan ke Bubulak dapat kujalani tanpa kesulitan. Karena membawa barang jadi saya membayar angkot untuk dua orang (satu orang dan satu tempat untuk barang). Tiba di Bubulak, perjuangan berikutnya. Membawa kedua kardus dan tas yang memiliki berat layaknya batu dari tempat pemberhentian terakhir angkot yang kunaiki ke tempat ‘mangkal’ angkot berikutnya. (Kalau saja ada yang rela menolongku saat itu, pasti ku memilih untuk pingsan. Ya, alhamdulillah masih diberikan kekuatan oleh Yang Maha Kuasa. ) Ku pilih angkot yang masih sepi, karena sulit untuk memasukkan kedua kardus dan diriku ke dalam angkot yang telah dipadati oleh penumpang.

Di angkot berikutnya kondisinya berbeda jauh dari sebelumnya. Karena angkot ini ‘ngetem’, maka penumpangnya pun ditunggu hingga penuh. Akhirnya saya memutuskan untuk mengambil tiga tempat untuk saya dan barang. Kasihan penumpang yang lain jika saya dan barang hanya dihitung untuk dua tempat. Disini terjadi miss-communication antara saya dan calo angkot. Dia pikir barang tidak dihitung sama sekali, sehingga dia memaksakan untuk mengisi angkot dengan formasi 6-4. Ini juga karena kesalahanku yang tidak mengatakan bahwa barang ikut dihitung. Akhirnya saya mengatakan bahwa barang dihitung dua tempat (berarti jika ditambah saya menjadi tiga tempat). Masih saja terjadi miss-communication dengan calo. Dia mengira bahwa saya dan barang dihitung dua tempat. Puuuusssssiiiiiingggg. Akhirnya sang calo membentuk formasi 5-4, yang berarti barang hanya dihitung satu tempat. Akhirnya ada satu orang yang menjadi korban miss-communication antara saya dan calo angkot. Sampai di terminal Baranangsiang, Bogor, saya langsung disambut laksana tamu penting oleh beberapa orang yang berprofesi sebagai kuli panggul. Karena memang saya membutuhkan dan timbul perasaan tidak enak untuk menolak, maka saya gunakan jasa angkut dari salah satunya.

Sampailah saya pada Bus “Laju Utama” jurusan Bogor-Bekasi via UKI. Kedua kardus saya masukkan ke dalam bagasi Bus, dan masalah selesai untuk sementara waktu. Yang menjadi pertanyaan bagi saya adalah apakah barang-barang yang diletakkan didalam bagasi ikut kena biaya. Karena saya pernah dua kali menggunakan fasilitas bagasi Bus tidak pernah kena biaya. Dan yang ketiga kali (red:yang sekarang ini), saya dikenakan biaya bagasi sebesar Rp. 4000,- dari Bogor sampai Bekasi. Ini pungutan resmi dari PO Bus yang bersangkutan, atau pungutan liar dari oknum kondektur Bus?

Sesampainya di Bekasi, saya menunggu Bapak yang sebelumnya sudah saya minta untuk menjemput saya di terminal Bekasi. Untuk mengurangi beban bawaan dari terminal ke rumah. Alhamdulillah, monitor bisa diangkut oleh Bapak ku, sehingga saya hanya tinggal membawa casing dan tas. Angkot dari terminal menuju rumahku agak sepi, sehingga tidak kesulitan dalam mengatur barang bawaan.

Alhamdulillah saya sampai di rumah dengan selamat tanpa kekurangan sesuatu pun, kecuali uang. Karena uang pasti banyak dikeluarkan sepanjang jalan. Mungkin ceritanya terlalu panjang. Ada yang mau baca gak ya?

Hanya sekedar ingin membagi pengalaman dalam angkut mengangkut. Moga pengalaman ini dapat berguna bagi pembaca. Pesan saya “Jangan sampai miss-communication dengan calo angkot, kasihan penumpang lainnya”.

Entry filed under: Uncategorized. Tags: .

Pantaskah…? Gadis Yang Ter-Dzalimi

2 Komentar Add your own

  • 1. Rendra  |  September 8, 2006 pukul 12:16 pm

    Waktu masuk ke Terminal BS, barangnya diitung juga nggak? (Retribusi yang Rp200 itu lho..)

    Balas
  • 2. sundoro  |  September 15, 2006 pukul 3:25 am

    Ya nggak lah Cah.
    Yang diitung gw n’ kuli panggulnya.
    Coz wkt itu buru2 gw kasi gope-an aja😀

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Bulan Ini

September 2006
S S R K J S M
« Agu   Okt »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  

RSS Mas Ersis

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS Planet Ilkomerz 39

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Kunjungan

  • 61,204

%d blogger menyukai ini: