Archive for September, 2006

Persamaan tidur dan mati

Tahukah Anda bahwa antara orang yang tidur dengan orang mati memiliki persamaan?
Mungkin sudah banyak orang yang tahu perbedaan antara orang mati dengan tidur. Orang mati tidak bernafas sedangkan orang tidur bernafas, orang mati jantungnya tidak berdetak sedangkan orang tidur jantungnya masih berdetak, de-el-el.

Namun jarang orang yang tahu persamaan antara orang yang sedang tidur dengan orang mati.
Persamaannya bukan sama-sama orang, dan juga bukan sama-sama merem.
Waktu lagi baca Al-Quran belum lama ini, tiba-tiba gak sengaja membaca suatu ayat Al-Quran yang cukup menarik untuk dibahas, yaitu surat Az-Zumar ayat 42 yang artinya:
“Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditentukan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berpikir”.

Dari sinilah kita yakin 100% bahwa jiwa (red:ruh) manusia yang tengah tidur dipegang oleh Allah SWT, sama seperti orang yang sudah mati. Namun terdapat perbedaan, yaitu orang yang tidur ruhnya akan dilepaskan untuk kembali bersatu dengan raganya. Berarti tidur dan mati hanya berbeda tipis. Hidup dan mati kita sangat dekat. Kita hanya tinggal menunggu keputusan Yang MahaKuasa.

Ketika beranjak tidur, kita tidak tahu apakah esok masih ada hari untuk kita. Apakah esok jiwa ini masih dapat bersatu dengan raga kita. Dan apakah sang Pemilik jiwa dan raga ini masih memberikan kita waktu untuk memperbaiki diri. Oleh karena itu, kita dianjurkan untuk selalu membaca Do’a sebelum tidur dan setelah bangun tidur.

Jangan pernah merasa bosan untuk terus memperbaiki diri dan memperbanyak amal. Karena kita tidak pernah tahu kapan kita akan mati…

Wallahu’alam bishowab

Iklan

September 20, 2006 at 9:03 am 1 komentar

Met Datang Ramadhan

Gak terasa sudah hampir 11 bulan Qomariyah kita lalui, dan beberapa hari lagi kita akan kembali bertemu dengan bulan mulia, Ramadhan. Sebelas bulan itu kulalui begitu saja tanpa persiapan untuk bertemu dengan Ramadhan, begitu ruginya diri ini. Selain itu, Ramadhan tahun lalu pun tidak menggoreskan bekas terhadap 11 bulan lainnya. Betapa ruginya diri ini.

Apakah Ramadhan kali ini akan berjalan seperti biasanya? Apakah diri ini akan kembali merugi dengan membiarkan Ramadhan meninggalkan kita tanpa menggoreskan perubahan dalam diri ini? Apalagi belum tentu kita dipertemukan kembali dengan bulan Ramadhan tahun depan, bisa jadi Ramadhan kali ini merupakan Ramadhan terakhir untuk kita, dan bukan tidak mungkin kita tidak disampaikan kepada Ramadhan kali ini.

Kita disarankan untuk berdoa pada 2 bulan sebelum Ramadhan (red: Rajab dan Sya’ban): “Ya Allah, berkahilah kami pada Bulan Rajab dan Sya’ban dan sampaikanlah kami kepada Ramadhan”. Yang mengajarkan kita untuk berdoa seperti ini adalah Rasulullah SAW. Walaupun beliau adalah manusia dengan akhlak mulia, dijamin terlindung dari dosa, dan telah dijamin akan masuk Syurga oleh Allah SWT, beliau sangat merindukan pertemuan dengan bulan suci Ramadhan.

Lalu bagaimana dengan kita umatnya? Yang masih bergelimangan dengan dosa-dosa. Yang tidak bisa terlepas dari dosa dan kesalahan. Apakah kita juga merasakan kerinduan yang sama dengan Rasulullah dalam menantikan kedatangan bulan suci Ramadhan?

So…prepare your self. Beberapa hari lagi Ramadhan akan mendatangi kita selama satu bulan penuh. Jangan sia-siakan kesempatan ini untuk memperoleh Magfirah dan RahmatNya. Jangan sampai kita termasuk orang-orang yang merugi.
Wallahu’alam

“Allahumma Baariklana Fii Rajaba Wa Sya’ban Wa Balighna Ramadhan”
“Marhaban yaa Ramadhan…Marhaban yaa Ramadhan…Marhaban yaa Ramadhan”

Mari sambut Ramadhan dengan kesucian hati.
Mohon maaf atas semua salah yang terucap
Mohon maaf atas semua khilaf yang terbuat

Maaf dari Anda adalah modal awal yang baik untuk Ramadhan kali ini menjadi lebih baik.

September 15, 2006 at 3:10 am 3 komentar

Penyakit Baru

Sepertinya belum lama aku tinggal di rumah. Tetapi kini aku telah mengidap penyakit baru yang membuat produktivitas turun. Selain itu, penyakit ini juga berimbas menurunkan kesehatan fisik. Penyakit ini bernama “Tilu” (Tidur Mulu) yang akhir-akhir ini telah menginfeksi diri ini.

Apalagi sebentar lagi sudah akan masuk bulan Ramadhan. Banyak yang berpendapat bahwa tidur saat berpuasa adalah ibadah. Sudah terkena penyakit “Tilu” ditambah alasan bahwa tidur saat berpuasa adalah ibadah menyebabkan makin banyak lagi porsi tidur yang akan kujalani.

Semoga saja kebiasaan buruk ini hanya merupakan proses adaptasi dengan suasana rumah, karena akan rugi besar jika kebiasaan ini masih berlanjut sampai bulan Ramadhan. Bulan Ramadhan adalah bulan untuk mengumpulkan amal shalih sebanyak-banyaknya, bukan untuk memperpanjang durasi tidur. Karena suri tauladan kita, Rasulullah SAW, pun yang oleh 4jj1 telah dijamin akan dimasukkan ke dalam surga, masih mengharapkan agar disampaikan umurnya sampai bulan Ramadhan. Apalagi kita yang masih berselimuti dosa-dosa yang tidak terkira jumlahnya.

Mari kita bersama-sama mempersiapkan diri menyambut datangnya bulan mulia (red:Ramadhan) yang sebentar lagi akan datang mengunjungi kita selama sebulan. Jangan biarkan ia datang dan pergi begitu saja tanpa meninggalkan sesuatu perubahan bagi diri kita. Dan juga jangan sampai penyakit “Tilu” mengurangi kuantitas amal shalih kita di bulan Ramadhan. Amiin.

September 15, 2006 at 2:56 am Tinggalkan komentar

Gadis Yang Ter-Dzalimi

Ada satu hal yang sangat kuingat pada saat memindahkan komputer dari kosan ke rumah. Yaitu saat di angkot 03 jurusan Bubulak-Baranangsiang. Karena kesalahan teknis, barang bawaanku yang seharusnya dihitung dua tempat, tapi malah dihitung satu tempat sehingga merugikan penumpang lain. Angkot ini diisi penumpang dengan formasi 5-4.

Ada satu penumpang yang paling dirugikan karena tidak mendapatkan tempat duduk, dia hanya duduk mungkin tidak sampai seperempat dari posisi duduk yang seutuhnya. Dia adalah (sesosok gadis gak cocok, seonggok gadis juga gak cocok, seekor gadis apalagi,…ya seorang gadis muda belia….) seorang gadis belia. Sungguh tidak tega melihat penderitaan yang diterimanya. Apalagi itu disebabkan karena aku semata. (Koq jadi puitis goblok gini y…) Coba Anda bayangkan jika berada di posisi dia, harus menahan penderitaan itu mulai dari Bubulak hingga Merdeka. Betapa malangnya gadis itu.

Akhirnya setelah mendapat kesempatan untuk berbicara dengannya, saya meminta maaf atas kesalahan itu. Saya men-dzalimi-nya. Saya takut di akhirat kelak, dia akan menuntut balas atas ke-dzalim-an yang telah kulakukan padanya jika tidak mendapatkan maaf darinya. Lalu sebagai ganti rugi, ongkos angkotnya dari Bubulak sampai Baranangsiang saya tanggung. Mudah-mudahan ini dapat mengobati penderitaannya.

Aku tak tahu apa yang kulakukan salah atau benar. Yang jelas itulah yang diperintahkan oleh hati kecilku. Just the Way I am. Tapi sayangnya, saya belum sempat mengenal siapa nama gadis itu, dimana rumahnya, nomor telponnya, statusnya (lho koq jadi merembet ya :D). Tapi buat apa juga. Memang tidak perlu, yang penting urusan sudah selesai. Mudah-mudahan, kalau kita jodoh pasti dipertemukan kembali….

See U…Gadis Yang Ter-Dzalimi

September 7, 2006 at 1:21 pm 2 komentar

Komputerku, Pulang Yuk…

Hari itu merupakan hari yang paling melelahkan bagiku. Hari itu merupakan hari terakhirku di kosan, dan harus segera memindahkan barang-barang kembali ke rumah ‘tercinta’. Dari segi barang, saya tidak terlalu memiliki banyak barang, sehingga mudah saja untuk pindahan ke rumah. Tapi beberapa bulan yang lalu, saya membawa komputer dari rumah ke kosan, sehingga sekarang saya harus mengangkutnya kembali ke rumah. Berhubung minimnya dana dan keterbatasan fasilitas, komputer saya angkut sekaligus tanpa kendaraan pribadi, tanpa carter kendaraan umum, dan tanpa seorang teman di samping ku …… T-T

Ceritanya berawal disini. Monitor di tangan kiri, casing beserta isinya di tangan kanan, dan perangkat sisanya (papan kunci / keyboard, tetikus/mouse, stabilizer, dkk) dibawa di dalam tas. Kebayangkan beratnya…

Berangkat dari kosan masih lancar, alhamdulillah. Karena jam 9-an angkot dari kosan menuju terminal angkot Bubulak banyak yang kosong. Langsung saja ku ambil tempat paling pojok, biar tidak mengganggu ‘pergerakan’ para penumpang lainnya. Perjalanan dari kosan ke Bubulak dapat kujalani tanpa kesulitan. Karena membawa barang jadi saya membayar angkot untuk dua orang (satu orang dan satu tempat untuk barang). Tiba di Bubulak, perjuangan berikutnya. Membawa kedua kardus dan tas yang memiliki berat layaknya batu dari tempat pemberhentian terakhir angkot yang kunaiki ke tempat ‘mangkal’ angkot berikutnya. (Kalau saja ada yang rela menolongku saat itu, pasti ku memilih untuk pingsan. Ya, alhamdulillah masih diberikan kekuatan oleh Yang Maha Kuasa. ) Ku pilih angkot yang masih sepi, karena sulit untuk memasukkan kedua kardus dan diriku ke dalam angkot yang telah dipadati oleh penumpang.

Di angkot berikutnya kondisinya berbeda jauh dari sebelumnya. Karena angkot ini ‘ngetem’, maka penumpangnya pun ditunggu hingga penuh. Akhirnya saya memutuskan untuk mengambil tiga tempat untuk saya dan barang. Kasihan penumpang yang lain jika saya dan barang hanya dihitung untuk dua tempat. Disini terjadi miss-communication antara saya dan calo angkot. Dia pikir barang tidak dihitung sama sekali, sehingga dia memaksakan untuk mengisi angkot dengan formasi 6-4. Ini juga karena kesalahanku yang tidak mengatakan bahwa barang ikut dihitung. Akhirnya saya mengatakan bahwa barang dihitung dua tempat (berarti jika ditambah saya menjadi tiga tempat). Masih saja terjadi miss-communication dengan calo. Dia mengira bahwa saya dan barang dihitung dua tempat. Puuuusssssiiiiiingggg. Akhirnya sang calo membentuk formasi 5-4, yang berarti barang hanya dihitung satu tempat. Akhirnya ada satu orang yang menjadi korban miss-communication antara saya dan calo angkot. Sampai di terminal Baranangsiang, Bogor, saya langsung disambut laksana tamu penting oleh beberapa orang yang berprofesi sebagai kuli panggul. Karena memang saya membutuhkan dan timbul perasaan tidak enak untuk menolak, maka saya gunakan jasa angkut dari salah satunya.

Sampailah saya pada Bus “Laju Utama” jurusan Bogor-Bekasi via UKI. Kedua kardus saya masukkan ke dalam bagasi Bus, dan masalah selesai untuk sementara waktu. Yang menjadi pertanyaan bagi saya adalah apakah barang-barang yang diletakkan didalam bagasi ikut kena biaya. Karena saya pernah dua kali menggunakan fasilitas bagasi Bus tidak pernah kena biaya. Dan yang ketiga kali (red:yang sekarang ini), saya dikenakan biaya bagasi sebesar Rp. 4000,- dari Bogor sampai Bekasi. Ini pungutan resmi dari PO Bus yang bersangkutan, atau pungutan liar dari oknum kondektur Bus?

Sesampainya di Bekasi, saya menunggu Bapak yang sebelumnya sudah saya minta untuk menjemput saya di terminal Bekasi. Untuk mengurangi beban bawaan dari terminal ke rumah. Alhamdulillah, monitor bisa diangkut oleh Bapak ku, sehingga saya hanya tinggal membawa casing dan tas. Angkot dari terminal menuju rumahku agak sepi, sehingga tidak kesulitan dalam mengatur barang bawaan.

Alhamdulillah saya sampai di rumah dengan selamat tanpa kekurangan sesuatu pun, kecuali uang. Karena uang pasti banyak dikeluarkan sepanjang jalan. Mungkin ceritanya terlalu panjang. Ada yang mau baca gak ya?

Hanya sekedar ingin membagi pengalaman dalam angkut mengangkut. Moga pengalaman ini dapat berguna bagi pembaca. Pesan saya “Jangan sampai miss-communication dengan calo angkot, kasihan penumpang lainnya”.

September 7, 2006 at 12:59 pm 2 komentar


Bulan Ini

September 2006
S S R K J S M
« Agu   Okt »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  

RSS Mas Ersis

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS Planet Ilkomerz 39

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Kunjungan

  • 62,963