Nasi Uduk Semur Jengkol
Januari 16, 2008
Alhamdulillah, acara Peringatan Tahun Baru 1429 Hijriyah yang diselenggarakan oleh para pemuda di lingkungan tempat saya tinggal berjalan lancar. Dapat dikatakan acara ini minim sekali persiapan, maklum ide untuk mengadakan acara ini baru muncul pada tanggal 1 Januari 2008, sedangkan acaranya diadakan pada tanggal 10 Januari 2008 yang bertepatan dengan tanggal 1 Muharram 1429 Hijriyah. Berarti waktu yang tersedia untuk persiapan hanya ada 10 hari, itu pun belum dipotong dengan hari kerja yang tidak mungkin untuk mempersiapkan acara ini. Belum lagi ditambah dengan musibah sakit yang menimpa beberapa panitia. Beberapa hal tersebut menimbulkan rasa pesimis, apakah acara ini tetap dapat terlaksana dengan kondisi yang ada saat ini. Tapi Alhamdulillah ALLAH mengijinkan acara ini dapat terlaksana dengan baik.Peringatan Tahun Baru Hijriyah tahun ini dapat dikatakan yang terbesar dan termeriah dibanding tahun-tahun sebelumnya. Acara ini disemarakkan dengan penampilan tim Hajir Marawis Nidaaul Hikmah yang merupakan tim marawis lokal daerah ku. Para santri TPA Al-Hikmah pun tampil untuk mempertunjukkan kemampuan dan keberaniannya. Dalam acara ini juga disisipkan penyerahan hadiah kepada para pemenang lomba yang diadakan pada siang harinya. Perlombaan yang diadakan adalah lomba Adzan, lomba Membaca Al-Quran, dan lomba Menulis Ayat Al-Quran. Lomba-lomba ini diperuntukkan untuk tingkat anak. Acara dilanjutkan dengan siraman rohani oleh Ustad Maturo dan ditutup dengan acara ramah tamah.

Ramah tamah diisi dengan acara makan nasi uduk bersama para warga (bapak-bapak, ibu-ibu, pemuda-pemudi, dan anak-anak). Nasi uduk yang dihidangkan sebanyak 20 tampah. Dalam 1 tampah, terdapat sekitar 5 sampai dengan 8 porsi nasi uduk beserta lauknya masing-masing. Meskipun ditaruh dalam satu tampah, setiap porsi terpisah dengan porsi lainnya. Yang menarik dari nasi uduk ini adalah kehadiran semur jengkol (kancing levi’s) sebagai pelengkap. Salah satu ciri khas nasi uduk Betawi adalah semur jengkol. Menurut pengakuan dari beberapa teman yang menyantap, semur jengkol yang dihidangkan tidak seperti biasanya, sangat nikmat dan “pulen” (sebenarnya saya sendiri bingung kenapa ada istilah pulen untuk menilai semur jengkol). Akhirnya karena penasaran dan ingin membuktikan pernyataan teman, saya yang bukan merupakan konsumen jengkol ikut mencoba sebanyak 1 keping. Cuma 1 keping lho. Ternyata benar, rasanya sangat mantap dan daging buahnya sangat empuk (pulen). Dan acara yang benar-benar menjadi penutup adalah acara beres-beres dan bersih-bersih yang dilakukan oleh teman-teman panitia.
Akhirnya saya bisa pulang ke rumah dengan perasaan puas dan tenang karena acara telah berjalan lancar, meskipun badan dan otak ini terasa letih. Tapi tetap ada satu yang membuat tidak tenang, yaitu takut klo kamar mandi jadi BAU karena pengaruh jengkol.
Entry Filed under: Catatanku. Tag: Hijriyah, Jengkol, Nasi uduk, Tahun Baru.
5 Comments Add your own
Leave a Comment
Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed
1.
Syafriadi | Januari 16, 2008 at 6:34 am
rekon… rekon….
2.
duns | Januari 18, 2008 at 8:58 am
kali ini jd ketua panitia lg ya?..ha.ha..makan kancing levisnya 1keping x brp lik??
pasti bsknya minta dimasakin lg kan sm ibu drmh, he.he.he
3.
allfat | Januari 25, 2008 at 12:07 am
Jd keinget makan bareng2 di T4 ma I6 rong..
4.
umatbersarung | Februari 5, 2008 at 6:00 am
asslm..
mas..
gi dimana tu…beraninya keroyokan kalo makan..
hihi..:D
5.
varendy | Februari 5, 2008 at 8:15 am
widih kancing lepis chuy, kagak doyan aye mah, ga nahan baunyeee, naujubileh dah
a comment from varendy.wordpress.com