Archive for Oktober 25th, 2007
Pemudik Tak Berperikemanusiaan
Mudik atau pulang ke kampung halaman pada saat lebaran merupakan merupakan impian hampir setiap orang di Indonesia. Karena sebagian besar masyarakat kita tinggal, besar, dan bekerja bukan di daerah asal mereka. Sehingga budaya mudik setiap lebaran banyak dilakukan oleh masyarakat kita untuk dapat bersilaturahim dengan para keluarga di daerah asal mereka. Buktinya setiap menjelang Hari Raya Idul Fitri (Lebaran) pemerintah sibuk melakukan beberapa persiapan untuk menangani arus mudik dan arus balik, kota-kota besar sunyi senyap karena ditinggalkan kurang lebih separuh warganya, aktivitas-aktivitas pekerjaan berhenti. Biasanya kejadian ini muncul antara H-7 dan H+7 lebaran.
Saat ini mudik dengan motor menjadi sebuah trend baru dalam dunia permudikan. Selain untuk mempercepat waktu tempuh (ketika macet, motor dapat selap-selip sehingga lebih cepat), menghindari berdesakan di sarana transportasi umum, mudik dengan cara ini juga lebih murah dalam segi biaya. Biayanya jauh lebih murah dibandingkan dengan sarana transportasi umum yang tarifnya sudah naik akibat tuslah. Selain memiliki keuntungan, mudik dengan motor pun memiliki resiko yang cukup besar. Dibandingkan mudik dengan mobil, bus, atau sarana transportasi lainnya, motor paling beresiko. Selain itu, ketika hujan, perjalanan menjadi sangat terganggu.
![]()
Yang membuat saya tercengang adalah banyak pemudik yang menggunakan motor yang turut membawa anak-anak mereka. Mulai dari satu hingga tiga anak. Apalagi usia si anak ada yang berusia di bawah satu tahun. Saya benar-benar tidak tega melihat ini. Betapa tidak. Sang anak mesti menjadi korban dari sebuah keinginan orang tuanya. Sang orang tua pun tidak memikirkan resiko yang bakal diterima si anak mulai dari angin jalan, debu, asap, teriknya sinar matahari, dinginnya udara malam, hujan, dan resiko kecelakaan. Apa para pemudik tersebut tidak sayang terhadap anaknya? Tentu mereka sayang. Tapi mereka mengorbankan kepentingan anaknya demi kepentingan mereka. Menurut saya, cara mudik yang seperti inilah yang dapat dikatakan “Mudik Tak Berperikemanusiaan”. Namun “Mudik Tak Berperikemanusiaan” bukan hanya terjadi pada mudik yang menggunakan motor, hal ini pun terjadi pada jenis mudik lainnya selama usia anak masih belum cukup untuk diajak mudik.
Mudik memang bukan sesuatu yang salah, karena tujuannya pun baik (silaturahim dengan keluarga). Namun jika memaksakan diri tanpa mempertimbangkan beberapa hal yang cukup penting, maka hanya akan merugikan diri sendiri. Oleh karena itu, jika anda hendak mudik (mungkin tahun depan), pertimbangkan kembali jika hendak mengajak anak anda, apakah mereka sudah cukup besar dan kuat untuk diajak mudik. Karena jika kita hanya memikirkan kepentingan kita untuk mudik tanpa mempertimbangkan resiko yang akan diterima sang anak, maka kita tergolong “Pemudik Tak Berperikemanusiaan”.
Bagaimana menurut anda?
9 comments Oktober 25, 2007